Medan, Jayapost.com - Jermal 15 sudah terlalu lama menjadi panggung sandiwara penegakan hukum. Ketua FPM-SU, Ilham Panggabean, menilai barak-barak memang diratakan, kamera menyala, dan puluhan orang kecil diborgol. Namun yang mengherankan, bisnis narkoba selalu hidup kembali. Publik pun wajar bertanya: jika para pemain terus ditangkap, siapa sebenarnya yang terus menghidupkan mesin peredaran ini?
Menurut Ilham Panggabean, tidak ada jaringan narkoba sebesar Jermal 15 yang bisa berdiri tanpa perlindungan. Tidak ada bandar yang dapat bergerak bebas tanpa merasa aman. Dan tidak ada “rasa aman” tanpa adanya pihak yang memberi ruang. Di tengah situasi ini, di masyarakat juga beredar dugaan tentang sosok yang disebut dengan inisial G., yang kerap dikaitkan sebagai figur kuat di balik peredaran di kawasan tersebut. Dugaan semacam ini muncul justru karena pola yang terus berulang: yang tumbang selalu pion, sementara “raja”-nya tak pernah terlihat di papan.
Ilham Panggabean menegaskan, Kapolrestabes Medan tidak bisa terus bersembunyi di balik angka tangkapan. Jika perang melawan narkoba ini benar-benar serius, maka harus ditunjukkan kepada publik siapa yang selama ini kebal. Buka siapa yang memayungi, dan bongkar siapa yang bermain di balik layar. Karena diam di tengah sistem yang busuk hanya punya satu arti: membiarkannya terus hidup.
Lebih jauh, Ilham Panggabean menyebut jangan salahkan rakyat jika kepercayaan mulai runtuh. Ketika sebuah sarang narkoba tak pernah benar-benar mati, yang dipertanyakan bukan lagi para pelaku kecil, melainkan siapa yang sesungguhnya mengendalikan permainan. Di titik itulah Kapolrestabes diuji—berpihak pada kebenaran, atau terseret dalam pembusukan yang sama.
Bagi Ilham Panggabean, Jermal 15 kini bukan sekadar soal narkoba. Ia telah menjadi soal keberanian aparat: berani benar-benar bersih, atau memilih tetap nyaman dalam wilayah abu-abu.
(Redaksi)
